Catatan Seorang Ibu

Nenek yang Berhati Berlian

Ikhlas dan bersyukur, sering kali kata ini terngiang sebagai syarat untuk meraih kebahagiaan dunia dan akherat, tapi menjalankannya dalam kehidupan nyata tidak semudah mengungkapkannya. Perkataan ini kembali mengingatkan saya ketika subuh itu mendengar kisah hidup seorang nenek berusia 80 tahun di acara mamah dedeh di tv. Yang menarik dari kisah hidupnya bukan hanya kegigihan, kerja keras, kejujuran, kesabaran, keikhlasannya, tetapi juga keajaiban dan kuasa Tuhan yang menyertainya dalam berjuang melawan kerasnya kehidupan. Saat beliau muda zaman penjajah dulu, pernah diberondong peluru musuh dan dianggap sudah meninggal dunia. Teman-teman seperjuangan yang saat itu sedang bersamanya meninggal semua, tetapi berkat keajaiban Tuhan, Ketika hendak dikebumikan, mayatnya bergerak hidup lagi seolah mayat hidup yang membuat terkejut dan lari pontang panting orang-orang di sekitarnya. Hal ini menambah keyakinan saya bahwa Allah maha kuasa, maha segalanya, “Qun faya Qun”, jika Dia menginginkan sesuatu jadi maka terjadilah.
Kemudian Nenek itu bercerita mengenai pekerjaannya menjual sapu lidi. Beliau mengambil bahan mentah untuk membuat sapunya dari daerah Ragunan Pasar Minggu, kemudian dijual di dekat rumahnya di daerah Hero Kalimalang Bekasi, daerah yang lumayan jauh karena hampir setiap hari saya lewati dan lumayan cape karena butuh waktu hampir 2 jam. Bisa dibayangkan betapa gigihnya Nenek yang mempunyai empat orang anak ini. Beliau di Jakarta hidup seorang diri di kontrakan karena tidak ingin menyusahkan anak-anaknya, karenanya kadang-kadang saja anaknya datang membantu Nenek ini membuat sapu. Satu buah sapu yang dijualnya hanya Rp. 5000 perak, dari sapu yang dibawanya tiap hari, itu juga jika dia bisa menjual habis 10 buah, hanya mendapatkan untung bersih Rp. 5000. Walau hanya sedikit menurut ukuran buruh kantor, hal ini sangat Beliau syukuri. Pernah ada orang yang membeli 3 buah sapunya dengan harga Rp. 50.000 dan tidak mau menerima kembalian, Nenek ini malah menanyakan apakah haram sisa kelebihan uang yang Beliau terima.Tentu saja hal ini halal dan alangkah baiknya orang-orang yang berlebih berlaku seperti orang Dermawan itu, memberi sedekah pada orang miskin. Pernah juga ada seorang pembeli yang keterlaluan, menawar dua sapu hanya seharga 5000 perak. Meskipun rugi, dengan ikhlas dan sabar Nenek itu memberinya. Sebagai orang mampu seharusnya membeli dari orang susah tidak usah menawar malah sudah semestinya memberi dengan ikhlas seperti sang nenek.
Sebenarnya bisa saja sang nenek menjadi pengemis di jalan seperti yang disarankan orang-orang di sekitarnya karena keterbatasan fisik yang dimilikinya, yaitu maaf, berlengan satu dan berjalan agak pincang karena peluru yang pernah bersarang di kakinya, tetapi dengan lantang nenek ini bicara “orang yang menjadi tukang minta-minta padahal badannya sehat adalah orang yang tidak punya pikiran”, padahal kenyataannya banyak sekali peminta-minta di Negeri ini yang masih muda dan berbadan segar bugar.
Mendengarkan kisah hidup nenek ini, membuat saya takjub, betapa ada orang yang hidupnya sedemikian susah dan sudah sangat tua masih bisa tersenyum slalu, tidak mengeluh, banyak bersyukur dan ikhlas. Benar-benar seorang nenek yang berhati berlian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s